Gunung Gede, menjulang megah di antara lanskap Kota Bogor, Cianjur dan Sukabumi, gunung ini bukan hanya sekedar ikon alam yang menjadi destinasi favorit pendakian di Jawa Barat, tetapi juga menyimpan catatan letusan yang panjang dan menarik. Aktivitas vulkaniknya yang terekam dari masa ke masa memberikan wawasan berharga tentang dinamika geologi wilayah ini.
Yuk sob! kita telusuri riwayat letusan Gunung Gede dari masa ke masa, mengungkap misteri di balik setiap semburan dan dampaknya terhadap lingkungan serta masyarakat sekitar.
Sejarah Letusan Gunung Gede
Catatan riwayat letusan Gunung Gede pertama kali terjadi pada tahun 1747. Erupsi ini memiliki skala letusan VEI-3 dan menyebabkan 2 aliran lava bergerak dari Kawah Lanang. Beberapa erupsi kecil kembali terjadi pada tahun 1761, 1780, dan 1832.
Menjelang akhir tahun 1840, Gunung Gede meletus kembali dengan kekuatan yang jauh lebih besar. Letusan dengan skala VEI-3 ini menghasilkan suara gemuruh yang membangunkan warga sekitar dari tidur mereka. Dampak bencana alam ini sangat signifikan, bahkan menyebabkan perubahan ibu kota Keresidenan Priangan dari Cianjur ke Bandung.
Baca juga: Ini dia 7 Fakta Menarik Seputar Alun-alun Mandalawangi Gunung Pangrango.
Setelah erupsi dahsyat tahun 1840, Gunung Gede terus menunjukkan aktivitas vulkaniknya melalui serangkaian erupsi kecil yang terjadi sebanyak kurang lebih 24 kali. Meskipun tidak sebesar aktivitas vulkanik sebelumnya, namun tetap memberikan ancaman bagi masyarakat yang tinggal di sekitar gunung.
Letusan terakhir gunung yang berlokasi di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango ini tercatat pada tahun 1957. Aktivitas vulkanik ini menghasilkan awan asap raksasa yang mencapai ketinggian 3000 meter di atas kawah. Awan raksasa tersebut terlihat jelas dari Bogor serta menyebabkan hujan abu di daerah Batavia (Jakarta saat ini).
| Periode Terjadinya Letusan | Deskripsi Kejadian | Volcanic Explosivity Index (VEI) |
|---|---|---|
| 1747 dan 1748 | Erupsi dahsyat mengakibatkan perubahan signifikan pada morfologi gunung api | 3 |
| 1761 | Setelah 71 tahun tidak aktif, Gunung Gede tiba-tiba meletus dengan kolom erupsi yang sangat tinggi, terlihat jelas dari Bogor. Hujan abu lebat terjadi antara pukul 11 dan 12 siang, dengan angin yang membawa abu ke arah barat, mencapai dan mengendap tipis di Jakarta | 2 |
| 29 Agustus 1832 | Ledakan dan hujan abu | 3 |
| 12 November – 11 Desember 1840 | Aktivitas vulkanik dimulai pada tanggal 12 November, kemudian Pada 1 Desember pukul 06.00, Gunung Gede mengalami erupsi paroksismal dengan suara gemuruh, menghasilkan kolom api setinggi 200 meter di atas kawah dan kolom erupsi setinggi 2000 meter di atas puncak. Erupsi serupa terjadi pada 3 Desember pukul 08.00 dan 11 Desember pukul 14.00, yang terakhir disertai hujan abu | 3 |
| 12 November – 11 Desember 1840 | Aktivitas vulkanik dimulai pada tanggal 12 November, kemudian Pada 1 Desember pukul 06.00, Gunung Gede mengalami erupsi paroksismal dengan suara gemuruh, menghasilkan kolom api setinggi 200 meter di atas kawah dan kolom erupsi setinggi 2000 meter di atas puncak. Erupsi serupa terjadi pada 3 Desember pukul 08.00 dan 11 Desember pukul 14.00, yang terakhir disertai hujan abu | 3 |
| 28 Juli 1843 | Masa tenang Gunung Gede selama tiga tahun berakhir dengan erupsi pada 28 Juli pukul 23.30. Aktivitas vulkanik ini menghasilkan hujan abu tipis yang tersebar di sekitar gunung. Catatan dari Junghun (1843) menyebutkan bahwa ada tiang asap atau abu yang terlihat, dan abu vulkanik mencapai daerah Cipanas, Cianjur dan Cicurug | 2 |
| 23 Januari 1845 | Pada pukul 10.30 pagi, Gunung Gede meletus, menghasilkan kolom asap dan abu yang menjulang tinggi. Suara gemuruh yang menyertai ledakan ini terus berlangsung hingga pukul 3 sore, menunjukkan aktivitas vulkanik yang berkepanjangan | 2 |
| 5 Maret 1845 | Pada pukul 22.30, Gunung Gede kembali meletus dengan kekuatan yang mirip dengan kejadian sebelumnya. Dampak dari erupsi ini bahkan terasa hingga wilayah Cianjur dan Bogor, di mana guncangan gempa tremor dirasakan oleh masyarakat | 2 |
17-18 Oktober 1847 | Diawali dengan erupsi yang menyebabkan hujan abu tipis di Bogor, aktivitas Gunung Gede terus meningkat. Pada 17 Oktober tercatat adanya tremor, yang kemudian diikuti dengan munculnya kolom asap tebal hitam di puncak gunung pada 18 Oktober | 2 |
| 8 Mei 1848 | Letusannya mengeluarkan banyak abu yang membentuk awan tebal di atas gunung | 2 |
| 28 Mei 1852 | Pada pagi hari, erupsi abu terjadi dengan tiang asap dan lontaran fragmen lava berdiameter 5-30 cm | 2 |
| 14 Maret 1853 | Antara pukul 7 hingga 9 pagi, terjadi erupsi yang menghasilkan asap tinggi | 3* |
| 18 September 1866 | Hujan abu | 2 |
| 29-30 Agustus 1870 | Letusan menghasilkan kolom erupsi yang sangat tebal dan api yang terlihat | 2 |
| 03 Oktober 1870 | Pada pukul 09.45, ledakan kuat terdengar, kemudian suasana kembali tenang | 2 |
| 10 Juni – 16 Agustus 1886 | Terjadi ledakan vulkanik dengan skala VEI 2 | 2 |
| 22 Oktober 1887 | Erupsi dengan skala VEI 2 | 2 |
| 1888 | Erupsi dengan skala VEI 2 | 2 |
| 1891 | Erupsi dan terdengar ledakan dari kawah | 2 |
| 1-14 Mei 1889 | Erupsi disertai dengan munculnya api | 2 |
| 2 Mei 1909 | Menurut Taverne (1926), semburan abu disertai gemuruh menyebabkan hujan abu tipis selama dua hari. N.van Padang (1952) mengklasifikasikan erupsi ini sebagai erupsi normal. Sementara itu, Petrochevsky (1948) mencatat perluasan area fumarola di kawah yang menyebabkan kematian tumbuhan di sekitarnya | 1 |
| 19-26 Desember 1946 | Kawah Ratu mengeluarkan asap akibat erupsi | 1 |
| 2 September – November 1947 | Setelah hujan abu tipis, erupsi setinggi 600m terjadi antara pukul 09.00-09.30 di Kawah Lanang dan berlanjut hingga 20 November pukul 01.00. Letusan serupa juga terjadi pada 15 November pukul 01.25 dan 12.15, 28 November pukul 11.25, dan 30 November pukul 21.27 dengan interval 2-3 menit antar letusan | 2 |
| 28 Januari 1948 | Pada 8 Januari pukul 00.02, terjadi letusan selama 3 menit yang menyemburkan pasir dan lapili. Sepanjang bulan Januari, Gunung Gede mengalami 5 letusan , termasuk pada 11 Januari (21.50, 20 detik), 17 Januari (15.45, pendek), 22 Januari (00.45 dan 01.00, pendek), dan 25 Januari (07.30 dan 07.32, 3 menit). Letusan juga tercatat pada 28 Januari pukul 04.23 (Adnawijaya, 1948) | 2 |
| 15 November 1948 | Pada tanggal 15 November 1948, terjadi letusan yang menghasilkan abu, batu-batu besar, lumpur, api, dan petir | 2 |
| 17 Januari 1949 | N.M Van Padang (1951) mencatat adanya letusan kecil yang terjadi di kawah utama gunung berapi | 1 |
| 2 Agustus 1955 | Menurut Djatikusumo (1955), pada pukul 02.00 dini hari terjadi letusan yang menghasilkan asap tebal setinggi 300 hingga 400 meter di atas kawah gunung berapi | 1* |
| 28 April 1956 | Hadikusumo (1957) mencatat bahwa pada pukul 07.00 pagi, Gunung Gede mengeluarkan kolom asap hitam tebal yang disertai dengan semburan api. Fenomena ini berlangsung selama 30 menit | 2* |
| 13 Maret 1957 | Tepat pada pukul 19.16, Gunung Gede meletus dengan suara gemuruh yang keras. Letusan ini menghasilkan kolom erupsi yang sangat tinggi, mencapai 3000 meter di atas kawah, serta menyebabkan gempa kecil | 2 |
Potensi Gunung Gede Meletus di Masa yang Akan Datang
Meskipun tidak ada catatan letusan besar dalam beberapa dekade terakhir, Gunung Gede tetap menjadi gunung berapi aktif yang terus dipantau oleh para ahli vulkanologi.
Statusnya sebagai gunung api aktif tipe A menunjukkan bahwa gunung ini masih berpotensi untuk mengalami letusan di masa depan. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat dan pemerintah untuk tetap waspada dan siap menghadapi potensi risiko yang mungkin timbul.
Referensi:


