Beberapa hari terakhir media sosial lagi ramai membahas soal permintaan footage drone gratis dari sebuah lembaga pariwisata ke seorang kreator konten.
Tapi masalahnya bukan cuma soal file video.
Banyak orang mungkin cuma melihat hasil akhirnya. Video cinematic beberapa detik, gerakan drone yang halus, gunung yang megah, laut yang cantik, hingga langit golden hour yang bikin feed Instagram terlihat mahal.
Padahal di balik satu footage itu, ada proses panjang yang sering tidak kelihatan.
Dan jujur saja, tim Jejak Backpacker juga pernah mengalami hal serupa.
Kami sempat ditanya soal rate card untuk kebutuhan konten tertentu. Tapi setelah angka dikirim, responsnya malah seperti kaget sendiri. Seolah pekerjaan kreatif itu harusnya murah, atau bahkan gratis.
Padahal realitanya nggak sesederhana itu.
Orang Melihat Hasil, Tapi Tidak Melihat Proses
Konten outdoor itu salah satu jenis produksi yang cukup mahal dan melelahkan.
Bahkan sebelum kamera dinyalakan, kreator biasanya sudah keluar biaya seperti transportasi, penginapan, sewa kendaraan, logistik perjalanan, biaya guide, perizinan drone, hingga risiko alat rusak karena cuaca ekstrem.
Belum lagi waktu yang dihabiskan. Ada yang harus bangun jam 3 pagi demi mengejar sunrise. Ada yang harus naik gunung berjam-jam sambil bawa perlengkapan kamera belasan kilo. Ada juga yang berkali-kali gagal ambil footage karena hujan, kabut, atau angin terlalu kencang.
Tapi ketika hasil videonya sudah jadi dan terlihat bagus di Instagram atau TikTok, sebagian orang cuma melihatnya sebagai konten yang bebas diminta dan di download secara cuma-cuma.
Footage Drone Bukan File Kosong
Beberapa tahun lalu penggunaan drone di kawasan wisata bahkan sempat jadi perdebatan panjang. Banyak tempat mulai menerapkan aturan ketat, izin khusus, sampai biaya tambahan.
Artinya, footage drone bukan hanya sekadar hasil pencet tombol terbang lalu rekam. Ada skill, pengalaman, dan tanggung jawab di baliknya.
Pilot drone harus memahami kondisi cuaca, arah angin, area terbang aman, hingga regulasi setempat. Salah sedikit, alat bisa hilang atau bahkan membahayakan orang lain.
Belum lagi harga perangkat drone yang nilainya tidak murah.
Ironisnya, makin bagus hasil karya seorang kreator, kadang justru makin sering dianggap bisa diminta gratis dengan alasan “buat promosi”.
Exposure Tidak Selalu Bisa Bayar Tagihan
Ini mungkin bagian yang paling sering dirasakan kreator.
Kalimat seperti, “nanti kami bantu exposure ya”, “buat kolaborasi aja dulu”, “kan sekalian promosi akun”, sudah terlalu sering muncul di industri kreatif.
Padahal exposure tidak bisa memperbaiki baling-baling drone yang patah. Exposure juga tidak bisa mengganti biaya tiket pesawat, editing, atau risiko produksi di lapangan.
Bukan berarti semua kerja kreatif harus mahal. Tidak juga semua kolaborasi harus selalu dibayar penuh. Tapi setidaknya ada penghargaan terhadap proses dan effort di balik karya tersebut.
Karena ketika sebuah lembaga, brand, atau pihak tertentu membutuhkan konten berkualitas, sebenarnya mereka juga sedang membutuhkan pengalaman, tenaga, dan waktu dari kreatornya.
Kreator Outdoor Juga Sedang Bekerja
Mungkin ini yang paling sering disalahpahami.
Banyak orang mengira kreator outdoor cuma jalan-jalan sambil bawa kamera. Padahal saat orang lain menikmati liburan, kreator justru sering bekerja di tengah cuaca buruk, sinyal susah, dan kondisi yang tidak nyaman.
Kadang harus revisi video tengah malam. Kadang harus editing di tenda. Kadang pulang tanpa footage bagus meski biaya perjalanan sudah keluar banyak.
Dan semua itu dilakukan supaya penonton bisa menikmati hasil visual yang menarik.
Jadi wajar kalau karya kreatif punya nilai.
Karena di balik satu file yang dikirim, ada proses panjang yang tidak semua orang mau jalani.


