Misteri Air Terjun Darah di Antartika, Fenomena Aneh yang Pernah Membuat Ilmuwan Bingung

Benua Antartika menyimpan banyak misteri, dan salah satu yang paling aneh adalah air terjun berwarna merah pekat yang muncul dari gletser. Di balik tampilannya yang menyeramkan, ternyata ada proses alam yang sangat unik.

Jejak Backpacker

Fenomena air terjun darah di Antartika
Fenomena air terjun darah di Antartika (Image: YT it's ITUS)

Di salah satu wilayah di Antartika ada sebuah fenomena alam yang terlihat seperti adegan dari film horor.

Dari celah gletser raksasa, mengalir cairan merah pekat yang tampak seperti darah di atas hamparan es putih. Pemandangan ini begitu aneh hingga sempat membuat para ilmuwan kebingungan selama bertahun-tahun.

Fenomena tersebut dikenal sebagai Air Terjun Darah di Antartika, atau Blood Falls. Meski terlihat menyeramkan, ternyata ada penjelasan ilmiah menarik di balik air merah yang mengalir dari gletser tersebut.

Air Terjun Darah Ditemukan Di Tengah Benua Es

Air Terjun Darah muncul pada sebuah gletser besar bernama Taylor Glacier tepatnya di wilayah McMurdo Dry Valleys, Antartika.

Daerah ini termasuk salah satu tempat paling ekstrem di bumi. Suhunya bisa turun jauh di bawah nol derajat dan hampir tidak ada kehidupan yang terlihat di permukaannya.

Yang membuat fenomena ini begitu mencolok adalah warna airnya. Saat cairan keluar dari celah es, warnanya merah tua dan menyebar di atas permukaan salju.

Kontras antara warna merah dan putih membuat pemandangannya terlihat tidak biasa. Banyak orang yang pertama kali melihat foto fenomena ini bahkan mengira itu hanyalah efek visual atau rekayasa gambar. Padahal, ini adalah fenomena alam yang benar-benar ada.

Baca juga: 7 Fakta Yakutsk, Kota Terdingin di Dunia yang Suhunya Bisa Mencapai -71°C.

Ditemukan Sejak 1911 oleh Seorang Geolog

Air Terjun Darah pertama kali ditemukan pada tahun 1911 oleh seorang geolog asal Australia bernama Griffith Taylor. Ia menemukan fenomena ini saat mengikuti ekspedisi Antartika yang dipimpin oleh Robert Falcon Scott.

Ketika menjelajahi lembah yang kini dikenal sebagai Taylor Valley, ia melihat cairan merah mengalir dari gletser.

Pada awalnya para ilmuwan mengira warna merah tersebut berasal dari alga merah yang hidup di dalam air. Namun setelah penelitian lebih lanjut, teori tersebut terbukti tidak tepat.

Kenapa Airnya Berwarna Merah?

Penelitian modern menunjukkan bahwa warna merah tersebut berasal dari air asin yang sangat kaya zat besi yang tersembunyi di bawah lapisan es.

Air tersebut keluar melalui retakan gletser dan kemudian bersentuhan dengan udara.

Saat itulah terjadi oksidasi, yaitu reaksi antara zat besi dengan oksigen di udara.

Proses ini mirip seperti besi yang berubah menjadi karat. Hasilnya adalah warna merah kecokelatan yang membuat air terlihat seperti darah.

Air Tidak Membeku Meski Suhu Dingin Ekstrem

Hal lain yang membuat fenomena ini menarik adalah kondisi lingkungannya.

Suhu di sekitar Taylor Glacier rata-rata sekitar minus 17 derajat Celsius. Dalam kondisi seperti ini, air seharusnya langsung membeku. Namun air dari Blood Falls justru tetap mengalir.

Rahasianya ada pada kadar garam yang sangat tinggi. Air tersebut jauh lebih asin dibandingkan air laut.

Air dengan kandungan garam tinggi memiliki titik beku yang lebih rendah. Karena itulah air ini masih bisa berada dalam bentuk cair meskipun berada di lingkungan yang sangat dingin.

Penelitian juga menunjukkan bahwa di bawah gletser terdapat jaringan sungai dan danau tersembunyi yang membawa air asin menuju permukaan.

Kehidupan Misterius di Bawah Es

Yang lebih mengejutkan lagi, para ilmuwan menemukan kehidupan di dalam air tersebut.

Di dalam cairan asin kaya zat besi ini terdapat mikroorganisme ekstremofil, yaitu makhluk hidup mikroskopis yang mampu bertahan di lingkungan yang sangat ekstrem.

Mikroorganisme ini tidak bergantung pada cahaya matahari. Mereka mendapatkan energi dari reaksi kimia antara mineral di dalam air. Penemuan ini membuat para ilmuwan tertarik mempelajari Blood Falls lebih jauh.

Bahkan, beberapa peneliti percaya kondisi seperti ini bisa memberikan petunjuk tentang kemungkinan kehidupan di planet lain yang memiliki lapisan es tebal.

Nah gimana Sobat Jpackers, menarik bukan? Fenomena Blood Falls ini menjadi bukti bahwa bahkan di tempat paling dingin dan terpencil di bumi, alam masih menyimpan banyak misteri yang menunggu untuk dipahami.

Jejak Backpacker

Konten kreator yang membahas kisah-kisah pendakian, cerita mistis, kisah inspiratif, dan kejadian viral menarik lainnya.

Tags

Related Post

Tinggalkan komentar


kopi liong bulan jejakbackpacker