Lebong Tandai, Batavia Kecil Kampung Halaman Emas Monas

Mengenal asal usul emas yang terdapat pada Puncak Monas, emas tersebut ternyata berasal dari sebuah desa kecil di daerah Bengkulu. Yuk cari tahu!

Debi Putra Harianto

Lebong Tandai dari udara
Lebong Tandai dari udara (source: YT Ockie Pasyo)

JPackers sekalian pasti sudah banyak yang tahu Tugu Monas (Monumen Nasional) di Jakarta. Di atas Monas terdapat sebuah simbolisasi lidah api yang menyala – nyala, lidah api ini terbuat dari bongkahan emas seberat 50 kg.

Sebenarnya berat bongkahan emas ini mencapai 72 kg, 22 kg sisanya terdapat pada Ruang Kemerdekaan yang tersebar di pintu gapura kemerdekaan, burung Garuda Pancasila dan miniatur Kepulauan Indonesia. Bongkahan emas ini merupakan sumbangan dari seorang pengusaha kaya asal Aceh pade era Orde Lama.

Tahukah kamu? kalau emas ini ternyata berasal dari sebuah desa terpencil di Bengkulu yang bernama Lebong Tandai.

Desa yang memiliki ketinggian 500 Mdpl ini terletak di Kecamatan Ambal Putih, Kabupaten Bengkulu Utara. Walaupun daerahnya terpencil tapi desa ini sangat layak untuk jadi salah satu destinasi wisata.

Desa ini memiliki keunikan yang akan membuat petualangan kalian menjadi seru. Apa aja sih keunikannya? Yuk kita cari tahu!

Sejarah Lebong Tandai

Pada tahun 1685 – 1825 Bengkulu adalah wilayah kekuasaan Kerajaan Inggris sampai terjadinya The Anglo-Dutch Treaty of 1824 atau Traktat London pada tahun 1824 yang menukar wilayah Singapura & Semenanjung Malaka dengan Bengkulu milik Kerajaan Belanda.

Selain diperebutkan lantaran sebagai daerah penghasil buah pala terbesar, Bengkulu juga merupakan daerah penghasil emas terbesar pada masa itu dan salah satu tambang emas utamanya adalah di Desa Lebong Tandai ini.

Aktivitas penggilingan emas di Lebong Tandai
Aktivitas penggilingan emas di Lebong Tandai – image: YT VLOG ADIE

Bahkan pada rentang tahun 1896 – 1901 melalui dua perusahaan Belanda yaitu Minjbouw Maatschappij Redjang Lebong dan Minjbouw Maatschappij Simau saja sudah memasok 72% kebutuhan emas Kerjaan Belanda dan pada 1937 tercatat sekitar 2,5 ton produksi emas dari daerah ini atau 50% dari produksi logam emas Belanda pada saat itu.

Keindahan Alam & Keramahan Masyarakat

Secara geografis desa ini dikelilingi oleh perbukitan. Sebelah utara berbatasan dengan Bukit Boharu, sebelah selatan berbatasan dengan Bukit Husin. Selain itu desa ini juga dibentengi oleh Bukit Kelumbuk dan Bukit Lebong Baru.

Di desa ini terdapat sekitar 200-an KK (Kepala Keluarga) yang mayoritasnya adalah penambang emas. Masyarakat desa ini sangatlah ramah, mereka akan dengan senang hati menyambut para pendatang yang berkunjung untuk melihat – lihat desa mereka. Warga desa akan dengan senang hati menawarkan kalian untuk menginap loh sob. Kalian tidak perlu takut kelaparan saat mengunjungi desa ini karena warga desa juga banyak yang membuka warung makan dan warung kelontong.

Lebong Tandai juga memiliki air terjun yang berasal dari bendungan Tokorotan yang dibangun oleh belanda setinggi 25 meter dan merupakan habitat ikan endemik Suku Pekal yaitu ikan kelari. Desa ini juga dialiri oleh Sungai Lusang sebagai pembangkit listrik dan sarana pengairan loh sob.

Objek Wisata

Walaupun letaknya terpencil tapi desa ini menyuguhkan banyak objek wisata. Mulai dari Gudang Ampas Emas peninggalan Belanda yang masih berdiri kokoh, pemandian air panas dan Napal Petak di Sungai Air Karang Sulu.

Selain itu 5 km dari permukiman warga atau di daerah Air Suwo juga terdapat objek wisata Napal Basurat yaitu dinding sungai dengan kaligrafi arab.

Bahkan kalian juga bisa menemukan situs sejarah Kerajaan Batu di Lubuk Ilan atau 6 km dari pusat desa dan juga terdapat Pemakaman Cina di Gunung Tinggi atau 3 km dari desa milik keluarga Chow Yung seorang saudagar kaya asal negeri Tiongkok yang datang untuk berniaga di Lebong Tandai dan wafat pada 1942 juga di desa ini.

Kalian juga bisa mengunjungi banyak sekali Gua pertambangan emas yang saat ini masih aktif maupun sudah tidak aktif. JPackers juga bisa melihat langsung bagaimana proses pertambangan sampai penyulingan emas di desa ini.

Di sini juga terdapat lokomotif uap peninggalan Belanda yang pernah digunakan untuk mengangkut emas dan lokomotif diesel peninggalan perusahaan Australia yang diberi nama Bobby.

Sarana Transportasi

Untuk kalian pecinta kereta api daerah ini wajib menjadi daftar destinasi impian kalian. Karena untuk menuju desa ini transportasi utama yang bisa kalian naiki adalah MOLEK atau motor lori ekspres. Dengan tarif sebesar 75 ribu untuk sekali jalan. Titik awal molek ini terdapat di Desa Air Tenang daerah Napal Putih.

Karena letak desa yang berada di tengah hutan, pada tahun 1900-an pemerintah Belanda memutuskan membuat jalur kereta sepanjang 35 km dengan ukuran rel 600 mm untuk mengangkut hasil emas keluar dari desa. Dibuatnya jalur rel ini dinilai lebih efektif dibanding membuka hutan untuk membuat jalur akses jalan kendaraan pada masa itu.

Sepanjang jalur lori ini kalian akan melewati hutan belantara, hutan sawit dan tiga terowongan yang dibuat manual saat mendekati desa. Sebenarnya pada tahun 2020 TNI sudah membuka jalur kendaraan untuk menuju desa ini yang selesai pada 2023 tapi karena masih berupa tanah yang licin dan berlumpur saat hujan MOLEK masih menjadi pilihan utama warga desa. Meskipun dengan jalur yang sudah rusak dan banyak rel yang patah.

Meskipun saat ini kondisi MOLEK dan jalurnya sangat memprihatinkan tapi dulu pada masa kejayaannya MOLEK ini terbilang mewah karena memiliki lokomotif dan gerbong – gerbong yang sangat bagus.

MOLEK (Motor Lori Ekspres) source Youtube Ahmad Wildani
MOLEK (Motor Lori Ekspres) – image: Youtube Ahmad Wildani

Sejarah Kelam

Dibalik keindahan alam dan keramahan warganya, desa ini juga menyimpan kisah kelam loh JPackers.

Yaitu tepatnya pada tahun 1988 warga yang mengambil alih aktifitas pertambangan emas dan pengelolaan jalur lori untuk akses desa sejak 1947 atau setelah Belanda pergi ditransmigrasi paksa oleh PT. Lusang Mining perusahaan pertambangan asal Australia yang akan memperluas cakupan pertambangan emas di Lebong Tandai.

Warga yang menolak mendapat tekanan yang cukup besar dari mulai larangan menambang emas sampai tidak diperbolehkan mengakses MOLEK yang membuat warga harus berjalan kaki sejauh puluhan kilometer untuk keluar masuk desa.

Sampai pada akhirnya tahun 1994 PT. Lusang Mining bangkrut dan pergi dari Lebong Tandai yang membuat warga desa yang terusir bisa kembali ke tanah kelahirannya.

Desa Modern

Sekalipun berada di tengah hutan tapi akses listrik dan internet sangat memadai loh sob. Warga desa memanfaatkan aliran Sungai Lusang untuk menggerakkan puluhan dinamo microhydro yang memiliki kapasitas 5.000 watt yang mampu menyala 24 jam dalam sehari.

Dengan kapasitas listrik 5.000 watt kebutuhan listrik warga desa sudah terpenuhi termasuk kebutuhan listrik untuk Masjid Al-Muhajirin yang merupakan masjid utama di desa.

Nah sob apakah kalian tertarik untuk singgah di desa asal emas monas ini?

Harapan dari kami untuk pemerintah baik dari Pemprov Bengkulu, Kementerian Pariwisata dan Pemerintah Pusat memberi perhatian untuk Desa Lebong Tandai ini agar bisa memaksimalkan potensi wisatanya. Baik dengan memperbaiki jalur lori ataupun memperbaiki akses jalan yang sudah ada agar bisa membuat perekonomian warga sekitar semakin maju lagi.

Debi Putra Harianto

Menggeluti kegiatan traveling dan jelajah alam sejak 2010 Anggota Malabrata Adventure

Tags

Related Post

Tinggalkan komentar


kopi liong bulan jejakbackpacker