Indonesia memiliki kekayaan alam yang sangat melimpah dan unik. Bahkan Indonesia menjadi Negara dengan keanekaragaman hayati terbesar kedua di Dunia. Salah satu yang menjadi ikon dari Indonesia adalah faunanya yang mencapai sekitar 2.850 spesies fauna yang sudah teridentifikasi.
Tapi tahukah sobat bahwa ada beberapa fauna atau hewan endemik Indonesia yang sedang dalam ancaman kepunahan. Bahkan salah satunya mempunyai populasi yang memprihatinkan karena tidak lebih banyak dari kapasitas penumpang pesawat Boeing – 737.
Harimau Sunda (Panthera Tigris Sondaica)

Harimau ini diketahui memiliki tiga sub-spesies yang berhabitat di Indonesia, yaitu Harimau Sumatera (panthera tigris sumatrae), Jawa (panthera tigris javanica) dan Bali (panthera tigris balica) dengan hanya menyisakan Harimau Sumatera yang saat ini berhasil bertahan dari kepunahan.
Sedangkan Harimau Jawa dinyatakan punah sekitar 1980-an walaupun sampai saat ini disinyalir banyak saksi mata yang melihat Harimau Jawa namun belum teridentifikasi kebenarannya, kemudian Harimau Bali yang punah bahkan sejak sebelum Indonesia merdeka yaitu sekitar tahun 1930-an.
Harimau Sumatera saat ini hanya memiliki populasi sekitar 400-an ekor dengan Riau sebagai rumah dari sepertiganya yang berada dalam naungan TN Bukit Tigapuluh. Hewan endemik ini dinobatkan sebagai spesies harimau terkecil di dunia setelah kepunahan Harimau Bali dengan rata – rata panjang 250 cm, tinggi 60 cm dan berat 140 kg untuk jantan, sedangkan betinanya memiliki rata – rata panjang 198 cm dan berat 91 kg. Harimau adalah termasuk kucing besar yang pandai berenang dan memanjat pohon, mereka umumnya hidup soliter atau menyendiri dan lebih aktif saat malam hari (nocturnal).
Diantara penyebab menurunnya populasi hewan gagah ini adalah jerat dari pemburu liar, konflik dengan manusia kemudian perburuan liar untuk mengincar kulit, tulang dan taring mereka yang dipercaya bisa menjadi hiasan ataupun obat.
Orang Utan Sumatera (pongo abelii)

Hewan yang memiliki tinggi sekitar 125 – 150 cm dan berat 30 – 50 kg ini merupakan salah satu hewan endemik yang sering dijadikan ikon atau maskot pada event – event olahraga besar di Indonesia.
Sebenarnya pada kurang dari 20.000 tahun yang lalu orang utan dapat ditemui di seluruh Asia Tenggara mulai dari Pulau Jawa di ujung selatan sampai Pegunungan Himalaya dan Cina bagian selatan di ujung utara. Namun akibat rusaknya habitat mereka, perburuan liar dan juga proses reproduksi yang cukup lambat hewan endemik lucu ini mulai mengalami penurunan populasi.
Saat ini teridentifikasi hanya terdapat 6.000-an ekor Orang Utan Sumatera dengan populasi terbesar di Leuser Barat dan habitat dengan harapan hidup tertinggi ada di Batang Toru.
Baca juga: Pulau Nuca Molas, Pulau Jurassic Park dari Indonesia
Walupun sudah dalam perlindungan UU No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem dengan ancaman 5 tahun penjara dan denda Rp. 100 juta, namun tetap saja tidak membuat kapok para pemburu dan perdagangan hewan liar.
Hal ini juga tidak lepas dari rendahnya kesadaran masyarakat dan penegakan hukum yang belum maksimal. Tidak lupa juga peralihan htan menjadi kebun sawit menjadi penyebab menurunnya populasi hewan ini.
Orang Utan Kalimantan (pongo pygmaeus)

Spesies Orang Utan ini adalah endemik pulau Kalimantan yang tersebar di Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam. Mereka memiliki rata – rata ukuran 125 – 150 cm & berat 90 kg untuk jantan, sedangkan betinanya sekitar 80 – 100 cm dengan berat 56 kg.
Di alam liar, angka harapan hidup mereka mencapai 35 – 40 tahun, sedangkan di penangkaran bisa mencapai 60 tahun. Populasi mereka saat ini tersisa sekitar 50.000an ekor, turun 80% selama kurun waktu 50 tahun ini. Berkurangnya spesies ini dikarenakan konflik dengan manusia dan juga habitatnya yang tergusur untuk perkebunan sawit.
Salah satu konflik tersadis terjadi pada tahun 2012 di Kalimantan Barat di mana ada seekor Orang Utan yang sedang sekarat menutupi luka bakar di wajahnya setelah jatuh dari pohon yang dibakar warga dalam upaya mengusir hewan ini karena dianggap hama untuk pohon sawit.
Orang Utan Tapanuli (pongo tapanuliensis)

Orang Utan yang satu ini tadinya masuk ke dalam famili Orang Utan Sumatera, tapi pada tahun 2017 setelah dilakukan penelitian filogenetik ditetapkan bahwa spesies yang satu ini berbeda dengan Orang Utan Sumatera. Mereka memiliki tinggi mencapai 137 cm & berat 70 – 90 kg untuk jantan, sedangkan betinanya punya tinggi sekitar 100 cm & berat 40 – 50 kg.
Habitat orang utan ini berada di Batang Toru sebelah selatan Danau Toba. Populasi spesies Orang Utan terkecil ini tercatat hanya tersisa sekitar 400 – 600 ekor. Konflik dengan manusia masih menjadi alasan utama penurunan populasi hewan endemik Tapanuli ini.
Badak Jawa (rhinoceros sondaica)

Satwa besar dengan cula satu ini adalah endemik Indonesia. Badak Jawa adalah spesies badak terkecil dari 5 spesies badak di Asia Selatan dan Afrika. Satwa yang berhabitat di Ujung Kulon ini memiliki panjang rata – rata 31 – 32 meter dengan tinggi 14 – 17 meter dan bobot sekitar 2,3 ton.
Berbeda dengan spesies badak afrika yang mempunyai cula yang panjang dan mematikan, Badak Jawa hanya punya cula sepanjang 25 cm yang terdapat pada badak jantan.
Populasi hewan besar ini adalah salah satu yang paling mengenaskan, jumlah mereka hanya tersisa 75 ekor yang bahkan tidak lebih banyak dari kapasitas kursi penumpang pesawat tipe Boeing – 737.
Perburuan liar menjadi masalah utama terancam punahnya Badak jawa. Bahkan pada tahun 2023 dua kelompok pemburu liar yang ditangkap mengaku sudah membunuh 26 ekor badak dalam rentang waktu 2019 – 2023.
Lambatnya proses berkembang biak pada Badak jawa juga menjadi faktor penurunan populasi. Awal masa reproduksi badak ada pada usia 5 – 7 tahun, walaupun usia reproduksi mereka bisa mencapai umur 46 tahun tapi badak hanya hamil 2,5 – 5 tahun sekali dengan masa kehamilan 14 – 18 bulan dan hanya mengandung seekor bayi badak. Sangat jarang terjadi kasus kelahiran bayi badak kembar.
Nah JPackers, untuk menjaga kelestarian satwa – satwa di atas adalah tanggung jawab kita semua bukan hanya pihak terkait. Hentikan perburuan liar dengan cara tidak membeli aksesoris yang berasal dari satwa di pasar gelap. Jaga habitat mereka dan jangan anggap mereka hama.
Bahkan di Indonesia ini masih banyak populasi satwa liar atau hewan – hewan endemik lainnya yang terancam punah selain yang sudah dihimpun pada artikel ini.
Kelestarian mereka adalah harta untuk anak cucu kita. Jangan sampai nantinya kita hanya bisa melihat satwa – satwa ini di kebun binatang atau penangkaran saja.


