Halo sobat Jpackers, kabar duka datang dari Gunung Dukono, Halmahera Utara. Gunung api yang terkenal aktif hampir setiap hari itu mengalami erupsi besar pada Jumat pagi, 8 Mei 2026.
Akibat bencana erupsi Gunung Dukono, tiga pendaki dilaporkan meninggal dunia, sementara 17 orang lainnya berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat.
Dilansir dari BBC News Indonesia, proses penyelamatan berlangsung cukup sulit karena aktivitas vulkanik Gunung Dukono masih terus terjadi hingga malam hari.
Gunung Dukono sendiri dikenal sebagai salah satu gunung api paling aktif di Indonesia. Buat sobat Jpackers yang penasaran seperti apa suasana dan karakter pendakiannya, kamu bisa baca pengalaman perjalanan ke Gunung Dukono Halmahera Utara yang sebelumnya pernah kami bahas.
Satu Korban Pendaki Berhasil Ditemukan Tim SAR
Upaya pencarian korban erupsi Gunung Dukono akhirnya membuahkan hasil. Tim SAR gabungan berhasil menemukan satu korban pendaki pada Sabtu sore, 9 Mei 2026.
Korban diketahui merupakan warga negara Indonesia bernama Enjel. Jenazah ditemukan sekitar pukul 15.00 WIT di area Pos 5, atau sekitar satu kilometer dari bibir kawah Gunung Dukono.
Kapolres Halmahera Utara AKBP Erlichson Pasaribu mengatakan korban diduga sempat berusaha menyelamatkan diri ketika erupsi besar terjadi pada Jumat pagi.
“Korban ditemukan di Pos 5. Diduga ia sedang berupaya menyelamatkan diri saat erupsi terjadi,” ujarnya.
Setelah ditemukan, tim SAR langsung melakukan proses evakuasi melalui jalur pendakian yang masih dipenuhi material vulkanik. Jenazah kemudian dibawa menuju Pos Pemantauan Gunung Dukono di Desa Mamuya sebelum dievakuasi ke RSUD Tobelo.
Meski satu korban sudah berhasil ditemukan, operasi pencarian masih terus dilakukan untuk mencari dua pendaki lain yang merupakan warga negara asing.
Proses pencarian juga tidak mudah karena aktivitas Gunung Dukono masih berlangsung. Abu vulkanik dan lontaran material dari kawah membuat tim penyelamat harus bergerak dengan sangat hati-hati.
Pihak terkait bahkan dilaporkan telah menyiagakan helikopter untuk membantu proses evakuasi apabila kondisi di lapangan memungkinkan.
Status Gunung Masih Level Waspada
Meski erupsi kali ini cukup besar, PVMBG masih menetapkan Gunung Dukono pada status Level II atau Waspada.
Namun masyarakat tetap diminta tidak mendekati radius empat kilometer dari kawah aktif karena potensi lontaran material vulkanik dan paparan gas berbahaya masih sangat tinggi.
Kepala PVMBG, Siti Sumilah Rita Susilawati, mengatakan tinggi kolom abu saat erupsi mencapai sekitar 10 kilometer dengan arah sebaran dominan ke wilayah utara.
Gunung Dukono sendiri tercatat sudah mengalami ratusan kali erupsi sepanjang 2026. Karakter letusannya yang nyaris terus-menerus membuat gunung ini punya risiko berbeda dibanding gunung lain yang lebih tenang.
Jalur Pendakian Disebut Sudah Ditutup
Fakta yang jadi sorotan publik, kawasan pendakian Gunung Dukono ternyata sebelumnya sudah ditutup sementara.
Pihak terkait bahkan disebut sudah memasang larangan pendakian di jalur masuk. Polisi kini berencana memeriksa pihak-pihak yang mendampingi rombongan pendaki tersebut naik ke area gunung.
Kapolres Halmahera Utara AKBP Erlichson Pasaribu menyebut ada dugaan para pendaki tetap naik demi berburu konten erupsi.
Fenomena wisata ekstrem di gunung api aktif memang semakin ramai dalam beberapa tahun terakhir. Banyak video erupsi viral bermunculan di media sosial dan membuat sebagian orang merasa situasinya masih aman untuk didekati.
Padahal kondisi gunung api bisa berubah hanya dalam hitungan menit.
Pemandu Lokal Sudah Mencium Tanda Bahaya
Seorang pemandu lokal bernama Aleksius Djangu mengaku sempat merasakan ada perubahan perilaku Gunung Dukono sebelum erupsi besar terjadi.
Menurutnya, Dukono biasanya terus mengeluarkan suara dan letupan kecil. Namun beberapa hari terakhir justru terasa lebih sunyi.
“Justru itu yang berbahaya. Karena tekanan di dalam gunung sedang berkumpul,” ujarnya.
Ia juga mendengar suara gemuruh mirip aliran sungai dari arah kawah sebelum letusan besar terjadi pada pagi hari.
Aleksius memilih berkemah di radius aman sekitar empat kilometer dari kawah bersama rombongannya. Ia menyebut jalur utara yang dilewati sebagian korban memang lebih rawan terkena lontaran material vulkanik.
Konten Ekstrem Sering Membuat Orang Lupa Risiko
Peristiwa ini jadi pengingat kalau visual keren di media sosial sering kali tidak menunjukkan bahaya sebenarnya.
Video pendakian dekat kawah aktif memang terlihat dramatis. Lava pijar, dentuman erupsi, dan hujan abu sering dianggap pengalaman langka yang menarik untuk direkam.
Masalahnya, banyak orang hanya melihat momen ketika pendaki berhasil pulang dengan selamat. Mereka jarang melihat seberapa besar risiko yang sebenarnya dihadapi di lapangan.
Gunung aktif seperti Dukono tidak selalu memberi tanda yang mudah dipahami. Dalam kondisi tertentu, erupsi besar bisa terjadi mendadak dan mengubah situasi hanya dalam beberapa detik.


