Kepulauan Raja Ampat: Disini Bumi Seperti Berhenti Berputar

Wilayah Kepulauan Raja Ampat dikenal sebagai potongan "surga" di Indonesia karena terkenal akan keindahannya yang mempesona. Namun kemajuan kehidupan masyarakat disana seperti jalan ditempat.

Jejak Backpacker

Potret anak-anak Kepulauan Raja Ampat sedang bermain dengan anjing

Kepulauan Raja Ampat, salah satu kabupaten di Papua Barat, pasti tak asing bagi para divers (sebutan untuk penyelam) di dunia. Bukan hanya karena keindahan alam bawah lautnya, tetapi juga karena potensi dan keaslian lingkungannya.

Raja Ampat tercatat dalam salah satu tempat menyelam terbaik di dunia. Banyak yang bermimpi datang ke sana, tetapi bagaimana kehidupan masyarakat Kepulauan Raja Ampat sendiri?

Dengan Luas wilayah Kepulauan Raja Ampat adalah 46.108 km2, terbagi menjadi 10 distrik, 86 kampung, dan 4 dusun. Tak banyak yang berubah di Kepulauan Raja Ampat. Kehidupan masyarakatnya tetap saja seperti dulu, seperti empat atau lima tahun yang lalu. Bahkan mungkin sedasawarsa yang lalu.

Baca juga: Desa Adat di Pulau Jawa yang Wajib Dikunjungi.

Seorang anak di Raja Ampat sedang memancing
Seorang anak di Raja Ampat sedang memancing

Mata pencaharian masyarakatnya tetap sebagai nelayan tradisional, karena laut memang merupakan bagian dari kehidupan mereka. Tapi laut tak kunjung meningkatkan kehidupan mereka tahun demi tahun.

Para nelayan, seperti halnya masyarakat nelayan pada umumnya, tetap hidup dalam balutan kemiskinan, menempati rumah-rumah sederhana yang nyaris tak layak huni, dengan peralatan melaut ala kadarnya.

Jumlah penduduk Kabupaten Raja Ampat pada tahun 2018 sebanyak 47.885 jiwa. Sesuai dengan kondisi alamnya, hampir seluruh penduduk Kabupaten Raja Ampat menetap di tepi laut (pantai).

Hanya penduduk Kampung Kalobo, Waijan, Tomolol, Waisai, dan Magey yang tinggal agak jauh ke arah daratan. Sebagai wilayah kepulauan, daerah ini memiliki sekitar 610 pulau besar dan kecil, dengan 34 pulau yang berpenghuni.

Namun pendapatan penduduk tidak kunjung meningkat, taraf hidup masyarakatnya juga berkembang sangat lambat. Masa depan anak-anak Kepulauan Raja Ampat tak terkuak ke cakrawala yang lebih baik. Anak-anak hanya mengenyam pendidikan setingkat SD, itu pun dengan segala keterbatasan sarana pendidikan.

Aktivitas sekolah SD di Raja Ampat
Aktivitas sekolah SD di Raja Ampat

Beberapa kondisi bangunan sekolah, khususnya sekolah dasar, sangat memprihatinkan. Banyak bangunan sekolah yang rusak sehingga sudah tidak layak lagi sebagai tempat kegiatan belajar mengajar.

Juga tidak seimbang nya perbandingan antara jumlah murid dan jumlah pengajar. Satu SD itu dilayani oleh 8 – 10 guru, berarti pada saat ini jumlah guru yang ada baru mencapai 55% dari kondisi ideal yang dibutuhkan.

Satu-satunya lahan pencaharian lainnya adalah dengan menjadi pekerja di penambangan gas dan mineral salah satu nya pertambangan nikel. Di Raja ampat terdapat 16 perusahaan pertambangan mineral (nikel) dengan 30 kawasan pertambangan.

Potret para pekerja publik di Raja Ampat
Potret para pekerja publik di Raja Ampat

Tapi itu tidak terlalu menjanjikan, setiap pagi pekerja tambang harus menempuh berkilo-kilo melintasi bukit, dan dengan upah hanya 17.500 rupiah sehari nya. Dengan nominal tersebut, tentu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan tarif hidup yang sangat tinggi di Papua.

Segala kemajuan di luar Kepulauan Raja Ampat hanya mereka saksikan lewat televisi, sementara di kepulauan raja Ampat bumi seperti berhenti berputar. Perkembangan dan kemajuan berjalan sangat lambat.

Editor: IG

Jejak Backpacker

Konten kreator yang membahas kisah-kisah pendakian, cerita mistis, kisah inspiratif, dan kejadian viral menarik lainnya.

Tags

Related Post

Satu pemikiran pada “Kepulauan Raja Ampat: Disini Bumi Seperti Berhenti Berputar”

Tinggalkan komentar


kopi liong bulan jejakbackpacker