Sobat JPackers sekalian pasti sudah banyak yang tahu dengan Desa Wae Rebo yang sangat indah di NTT kan atau Desa Adat Suku Baduy di Banten?
Selain dua desa tersebut yang sangat terkenal di Indonesia, ternyata di wilayah Pulau Jawa juga memiliki banyak desa – desa adat unik loh. Selain keindahan pemandangannya, kalian juga akan disuguhi keramah-tamahan penduduknya sob!
Kalian juga bisa mempelajari budaya setempat dan makanan ala rumahan yang sangat menggugah selera. Apa aja sih desa – desanya?
Yuk kita cari tahu!
Desa Adat Kasepuhan Ciptagelar, Sukabumi

Desa Adat Kasepuhan Ciptagelar masih sangat memegang budaya leluhur urang Sunda bahkan sejak 640 tahun lalu, mulai dari cara berpakaian sampai cara bertani. Ciri khas tersebut yang menjadi daya tarik bagi para wisatawan lokal sampai mancanegara.
Desa yang terletak di pedalaman Gunung Halimun – Salak ini mempunyai suasana yang sejuk dan asri karena letaknya yang masih dikelilingi oleh hutan.
Salah satu keunikan dari desa ini, kalian masih bisa melihat padi yang berusia sampai ratusan tahun loh, hal ini disebabkan oleh masyarakat setempat yang rutin menyisihkan sekitar 10% dari hasil panennya untuk disimpan di leuit (lumbung padi).
Selain itu tradisi ini merupakan simbol penghormatan terhadap Dewi Nyi pohaci Sanghyang Asri yang dipercaya oleh masyarakat sering menampakkan dirinya dalam bentuk padi.
Kasepuhan Ciptagelar diketahui masih memiliki kekerabatan dengan Prabu Siliwangi, sehingga desa ini masih dipimpin oleh tetua adat yang biasa disebut Abah, tercatat sejak tahun 1368.
Masyarakat Ciptagelar masih menyelenggarakan upacara adat rutin yang menarik untuk diikuti, antara lain Ngaseuk (tanam padi), Mipit (panen padi), Nganyaran (mencicipi hasil panen), Ponggokan (pembagian hasil panen) dan Seren Taun (pesta panen).
Walaupun desa ini termasuk desa adat tua namun masyarakat tidak menolak adanya modernisasi yang bermanfaat seperti listrik dan internet.
Bahkan masyarakat setempat juga berkarya lewat saluran televisi CIGA TV dan Radio Swara Ciptagelar loh sob. Tak cukup hanya itu saja, desa ini juga memiliki PLTA sendiri yang merupakan hasil swadaya masyarakat setempat.
Keren ya!
Kampung Kristen Palalangon, Cianjur

Cianjur terkenal sebagai salah satu daerah santri di Jawa Barat. Bahkan tercatat terdapat 300 lebih pesantren di 32 kecamatan yang ada di Cianjur. Sehingga membuat Cianjur sebagai salah satu daerah yang kuat nilai Islamnya.
Namun di salah satu daerah terdapat sebuah kampung yang masih memegang kuat ajaran Kristiani sob. Bahkan sejak ratusan tahun silam. Kampung ini bernama Kampung Kristen Palalangon di wilayah Gunung Halu.
Area ini mulai ditempati oleh umat Kristiani pribumi sejak era Bupati Raden Prawiradiredja II (1862 – 1910) atas permintaan Nederlandsche Zendings Vereeniging atau Komunitas Penyebar Agama Kristen Hindia-Belanda.
Inisiasi ini didasari atas keprihatinan dari NZV akan kondisi dan komunitas Kristen pribumi yang mengalami intimidasi, penganiayaan bahkan pembunuhan. Karena kondisi ini, NZV mengutus B.M. Alkema untuk mencari lahan yang cocok untuk pemukiman sekaligus pertanian.
Upaya ini mendapat bantuan dari Wedana atau pembantu Bupati bernama Sabri disertai tujuh orang lainnya yaitu; Miad Aliambar, Jena Aliambar, Hasan Aliambar, Akim Muhiam, Naan Muhiam, Yusuf Sairin dan Elipas Kaiin. Ketujuh orang ini kemudian dinobatkan sebagai generasi perintis berdirinya Kampung Palalangon.
Lahan kampung ini sebenarnya ditemukan secara tidak sengaja saat rombongan terperosok ke sebuah tebing di pinggir aliran sungai Citarum. Saat rombongan berusaha kembali menaiki tebing tersebut, mereka menemukan sebuah hutan belantara yang tanahnya agak datar.
Setelah melihat lokasi tersebut kemudian B.M. Alkema merasa cocok dan berikrar “di tempat inilah saya tetapkan sebagai tempat pemukiman bagi umat Kristen (Sunda).” sambil menancapkan tongkatnya di tanah.
Ada tiga marga yang menjadi ciri khas dari kampung ini yaitu; Markhasan, Dantji dan Masad.
Kampung ini bisa menjadi contoh masyarakat dengan toleransi beragama yang sangat tinggi, walaupun berbeda keyakinan masyarakat setempat sangat bergotong royong dan menciptakan suasana rukun serta damai.
Di kampung ini juga terdapat salah satu gereja tertua di Cianjur yaitu Gereja Kristen Pasundan (GKP) Palalangon yang sudah berusia sekitar 122 tahun.
Daerah ini dinamai Palalangon yang memiliki arti “Menara” karena lokasinya berada di perbukitan, namun sejak pembangunan Waduk Cirata kampung ini seolah turun dari ketinggiannya dan berada di dataran rendah.
Gimana? Tertarik mengunjungi kampung ini sob?
Desa Cisadon, Bogor

Desa yang satu ini mempunyai julukan Desa Batas Langit karena letaknya yang bisa dibilang sebagai desa terakhir dan berada di ketinggian serta sering ditutupi oleh kabut.
Untuk ke desa ini kalian disarankan untuk memakai kendaraan bertipe off road atau trail dikarenakan kondisi jalannya yang menanjak dan variasi jalan yang terdiri dari tanah dan bebatuan sangat tidak ramah untuk kendaraan biasa.
Kalian juga bisa trekking ke sini dengan membayar Rp5.000 saja, murah banget yah! Untuk jarak tempuh ke lokasi ini membutuhkan waktu sekitar 2,5 – 4 jam perjalanan atau sepanjang 8 km.
Di sepanjang jalan kalian akan disuguhkan pemandangan yang indah dan air terjun kecil di tengah jalur. Jika lelah kalian tidak perlu khawatir karena di sepanjang jalur juga terdapat warung yang menjajakan minuman dan makanan ringan serta bensin eceran.
Kalian juga bisa camping di Desa ini loh sob, tapi pastikan untuk membawa baterai cadangan atau powerbank ya. Karena di desa ini masih minim dialiri listrik dan akses internet. Tapi dibalik kekurangannya ini kalian akan lebih leluasa menikmati sejuk dan damainya suasana desa, bahkan saat malam hari kalian bisa melihat milky way loh.
Jika kalian berkunjung ke desa ini jangan lupa mencicipi dan membeli kopi robusta luwak liar asli desa ini ya. Keunikan kopi luwak desa ini karena berasal dari hasil fermentasi luwak liar di sekitar kebun kopi warga, bukan dari luwak peliharaan.
Selain itu warga setempat juga menjajakan sayuran hasil kebunnya yang masih segar loh sob.
Kampung Samin Klopoduwur, Blora

Kampung yang terletak di Kecamatan Banjarejo ini merupakan kampung wisata berbasis budaya asli Suku Samin.
Suku Samin sendiri merupakan salah satu dari ratusan suku yang ada di Indonesia. Saat mengunjungi kampung ini kalian bisa belajar tentang sifat kejujuran dan kesederhanaan dari masyarakat Samin atau yang biasa mereka sebut Sedulur Sikep Samin.
Suku Samin berasal dari sekelompok yang menganut faham Saminisme yang dibawa oleh seorang tokoh bernama Samin Surosentiko pada tahun 1859 di Ploso, Blora.
Ajaran ini merupakan bentuk perlawanan atas sikap sewenang – wenang pemerintah kolonial Belanda terhadap warga pribumi. Perlawanan ini berbentuk non-fisik seperti menentang segala peraturan dan kewajiban yang diatur oleh pemerintah kolonial terhadap rakyat, termasuk menolak membayar pajak.
Suku Samin berkomunikasi menggunakan bahasa Jawa Ngoko dengan sedikit Krama, sehingga terdengar sedikit lebih kasar dibanding orang jawa lainnya.
Walaupun berada di pedalaman dan masih menjunjung tinggi ajaran leluhur, tapi Suku yang satu ini tetap melek akan modernisasi teknologi. Bahkan mereka memanfaatkannya untuk kepentingan dan kemakmuran kampung.
Saat kalian mengunjungi kampung ini kalian bisa belajar membatik, pembuatan tempe, pemeliharaan kambing etawa, wisata kebun dan kalian bisa belajar tentang ajaran samin yang disampaikan oleh sesepuh kampung.
Untuk kalian yang ingin menginap juga terdapat fasilitas homestay dengan pelayanan yang sangat ramah dan akan membuat kalian merasakan bagaimana keseharian suku ini.
Nah sobat JPackers desa mana yang kalian tertarik untuk coba dikunjungi?
Di Indonesia ini memang selain alamnya yang indah tapi juga kaya akan budaya, 4 desa yang telah disebutkan barusan hanyalah secuil dari 500 lebih suku dan 700 lebih bahasa yang ada di negeri ini.
Lokasi-lokasi tersebut selain menjadi sarana edukasi juga bisa menjadi alternatif liburan untuk kalian.
Apakah ada desa unik lain lagi yang ada di sekitar kalian atau bahkan kalian tinggali? Share di kolom komentar ya!
Editor: IG


