Sobat Jpackers belum pernah mendaki gunung tapi sedang mempersiapkan pendakian pertama? Jika begitu adanya, sobat saat ini sedang berada ditempat yang tepat.
Perlu sobat ketahui, dalam dunia pendakian terdapat etika-etika yang perlu dipahami oleh pendaki. Tujuannya demi menjaga kelestarian lingkungan yang kita datangi dan meminimalisir resiko yang kapan saja bisa terjadi. Namun sayangnya masih banyak pendaki-pendaki baru yang terkesan FOMO (Fear of Missing Out) dan mengabaikan etika pendakian di alam bebas.
For your information, terdapat kaidah populer mengenai etika berkegiatan di alam bebas, antara lain jangan mengambil apapun selain gambar, jangan membunuh apapun selain waktu, serta jangan tinggalkan apapun kecuali jejak. Namun pada artikel kali ini kita akan breakdown lagi lebih detail mengenai etika apa saja yang harus dipahami oleh para pendaki dan pecinta alam.
1. Menyiapkan perlengkapan pendakian sendiri
Etika pendakian ke gunung pertama yang harus sobat perhatikan adalah melakukan persiapan perlengkapan mendaki sesuai standar secara mandiri.
Jangan sampai sobat mengabaikan beberapa peralatan karena merasa bisa pinjam kepada teman pendaki yang lain. Padahal teman kamu juga membutuhkan barang tersebut untuk digunakan dalam kegiatan yang sama.
2. Menjaga kebersihan dengan tidak membuang sampah sembarangan
Pendaki wajib memelihara kebersihan dengan tidak membuang sampah sembarangan, bahkan untuk jenis sampah dengan ukuran terkecil seperti bungkus permen atau kulit jeruk.
Banyak sekali pendaki pemula menoleransi sampah-sampah berukuran kecil yang dibuang di jalur pendakian, pemikiran tersebut harus sobat hilangkan saat membaca artikel ini.
Coba banyangkan apabila pemikiran tersebut dipunyai oleh puluhan atau bahkan ribuan pendaki yang lain? Lama-lama gunung berubah menjadi gundukan sampah. Jika melihat kondisi saat ini pun sudah sangat memprihatinkan sejujurnya.
Data dibawah ini merupakan jenis-jenis sampah yang sering dibuang oleh para pendaki yang waktu terurainya dapat mencapai ratusan sampai ribuan tahun.

3. Menjaga kelestarian dan habitat tumbuhan dan satwa di kawasan
Yang berikut ini merupakan etika yang harus dijunjung tinggi oleh para pendaki gunung. Sobat Jpackers harus menjaga habitat lingkungan di kawasan yang sobat kunjungi.
Contohnya dengan tidak memetik tumbuhan sembarangan, melakukan perburuan satwa, serta hal-hal lain yang dapat mengganggu ekosistem.
4. Tidak melakukan vandalisme
Etika yang harus diperhatikan selanjutnya adalah kebiasaan corat-coret atau vandalisme yang dibawa ke gunung. Lah emang iyak banyak yang corat-coret di gunung? Banyak sekali sob jejak vandalisme di gunung yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Mereka umumnya mencorat-coret di pohon, shelter, di batu-batuan, di papan petunjuk jalur dan masih banyak lagi.
5. Etika buang hajat saat mendaki gunung
Bagi sobat yang sering mendaki gunung pasti pernah ditanya oleh teman atau kerabat. “Lu kalo lagi mendaki gunung beraknya (buang hajat) gimana?”
Buang hajat merupakan kebutuhan biologis yang gak baik jika ditunda. Jadi ketika sobat Jpackers merasa sudah berada diujung tanduk untuk BAB (buang air besar) sebaiknya jangan ditahan-tahan.
Eitsss tapi buang hajat di gunung juga ada etikanya sob, mohon diperhatikan baik-baik ya! Pertama, jangan buang hajat di jalur yang dilalui oleh para pendaki. Kedua, jangan buang hajat di sumber air. Kemudian yang terakhir, sobat Jpackers harus menggali tanah secukupnya untuk buang hajat, kemudian setelah selesai kubur kembali, ya mirip-mirip metode BAB ala kucing gitu sob.
6. Menjaga kebersihan sumber air
Menemukan sumber mata air ketika sedang mendaki gunung bagaikan menemukan harta karun yang sangat berharga. Air sangat penting buat para pendaki karena bisa menjadi sumber kehidupan untuk dikonsumsi, digunakan untuk memasak, dan lain-lain.
Dalam memanfaatkan sumber air di gunung juga gak bisa sembarangan ya sob. Jangan sampai air yang sangat berharga tersebut jadi tercemar dan tidak layak untuk dipakai. Berikut beberapa cara mengelola sumber air yang wajib diperhatikan saat mendaki gunung.
Pertama, kembali mimin tegaskan sangat penting buat sobat Jpackers untuk tidak buang air kecil atau besar di sumber air. Kebayang dong air yang jernih, segar, bahkan sering diminum langsung oleh pendaki ternyata tercemar oleh kotoran manusia, mengerikan!
Selain itu ketika sobat Jpackers mencuci alat-alat makan, nesting, dan benda lainnya, usahkan untuk tidak mencuci langsung di dalam aliran air. Karena hal tersebut dapat mengotori air dengan limbah sisa makanan, limbah cairan deterjen, serta kotoran-kotoran lainnya. “Ih ribet banget, jadi gimana dong kalo mau nyuci?” ujar seorang netijen.
Cara mencuci yang baik itu dengan mengumpulkan air dalam sebuah wadah, bisa dengan botol minum, jerigen lipat, atau wadah lainnya. Kemudian sobat bisa mulai mencuci dengan jarak 3-5 meter dari bibir aliran air, tujuannya supaya limbah cucian tidak mengotori sumber air bersih.
7. Jangan menginap atau mendirikan tenda di dalam shelter
Saat melakukan aktivitas mendaki gunung yang panjang atau berat, shelter adalah tempat di mana pendaki bisa istirahat sejenak, mengisi energi, dan memulihkan kekuatan sebelum melanjutkan perjalanan. Jadi shelter merupakan tempat yang digunakan bersama-sama. Tidak dibenarkan mendirikan tenda atau menginap di shelter jika tidak sedang dalam kondisi darurat.
8. Membawa peralatan musik atau speaker aktif
Sobat Jpackers pernah gak sih sulit tidur di camp area gara-gara mendengar suara musik yang cukup keras? Kegiatan pendakian yang seharusnya tenang dengan suara-suara alam malah diganggu oleh polusi suara lain dari teknologi peradaban manusia yang tidak digunakan pada tempatnya.
Karena menimbulkan efek negatif, saat ini banyak pengelola gunung yang sudah melarang pendaki yang membawa alat musik dan speaker aktif yang memiliki volume besar. Selain menggangu sesama pendaki, suara bising dari musik juga bisa mengganggu makhluk hidup lain di sekitar hutan.
9. Etika ketika turun dari gunung
Pernah lihat pendaki yang bertindak sembrono ketika turun dari puncak gunung dengan berlari? Keren kah tindakan tersebut? Oh tentu tidak! Justru sangat berbahaya dan sangat tidak dianjurkan.
Berlari saat turun gunung beresiko terjatuh, terperosok hingga menyebabkan luka berat. Orang lain juga akan dirugikan dengan tindakan tersebut, misalnya debu yang ditimbulkan karena berlari, dan yang paling parah menyebabkan longsoran batu yang dapat membahayakan pendaki yang berada dibawah.
10. Jangan meninggalkan teman pendakian
Meninggalkan teman saat mendaki gunung melanggar prinsip dasar etika pendakian yang mengedepankan keselamatan dan solidaritas. Keberadaan teman mendaki bukan hanya untuk menemani dalam perjalanan, tetapi juga untuk saling mendukung dan berbagi tanggung jawab atas keselamatan masing-masing.
Meninggalkan teman dapat meningkatkan risiko kecelakaan atau kesulitan di medan yang sulit. Selain itu, hal ini juga mencerminkan sikap kurang peduli terhadap keadaan rekan pendaki dan dapat merusak kepercayaan serta hubungan sosial di antara anggota tim.
Oleh karena itu, menjaga kesatuan dan saling mendukung dalam perjalanan merupakan aspek penting dari etika mendaki yang harus patuhi oleh setiap pendaki gunung.
11. Hormati aturan adat setempat
Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung tinggi. Sebagai tamu yang sopan, pendaki harus mempelajari dan menghormati peraturan yang berlaku di wilayah yang sedang dikunjungi, termasuk larangan atau tradisi tertentu yang berkaitan dengan gunung yang akan didaki tersebut.
Misalnya, larangan tidak boleh berteriak, berkata-kata kasar, menggunakan atribut dengan warna tertentu, dan lain-lain. Dengan mematuhi dan menghormati aturan adat setempat, pendaki dapat menjaga hubungan yang baik dengan masyarakat lokal, menjaga keberlanjutan lingkungan, dan menghargai keberagaman budaya di Tanah Air.
12. Pahami aturan penggunaan drone
Memahami rules penggunaan drone saat mendaki juga sangat penting. Pastikan sobat Jpackers tahu dan paham akan peraturan di tempat yang akan didaki. Karena tidak semua gunung memperbolehkan penggunaan drone saat mendaki dengan berbagai alasan yang masih rasional.

Umumnya pelarangan penggunaan drone terjadi di daerah seperti taman nasional atau cagar alam. Jika diperbolehkan pun sobat harus melalui proses perizinan yang cukup rumit. So, sebelum menerbangkan drone di wilayah gunung, sobat Jpackers harus memastikan sudah memiliki izin dari pihak yang berwenang.
Nah! Gimana sob, sudah paham kan sekarang? Semoga semakin banyak para penggiat alam yang memahami etika yang berlaku ketika melakukan aktivitas pendakian gunung dimanapun itu. Aturan-aturan ini sebenarnya tidak sulit buat dilakukan kok. Yok bisa!


