Halo sobat JPackers!
Minangkabau merupakan representasi sebuah suku, wilayah dan kebudayaan di daerah Sumatera Barat. Daerah ini terkenal dengan sistem matrilinealisme serta kuliner lezat yang bahkan sudah dikenal di mancanegara.
Secara persebaran, kebudayaan Minangkabau meliputi Sumatera Barat, separuh Riau daratan, utara Bengkulu, barat Jambi, barat Sumatera Utara, barat Daya Aceh bahkan sampai ke Negeri Sembilan di Malaysia. Bahkan diketahui, pendiri kota Manila di Filipina adalah Rajah Sulayman asal Minangkabau dan Kerajaan Sulu di Filipina Selatan juga didirikan oleh orang Minangkabau yaitu Raja Baginda.
Selain terkenal dengan kebudayaan dan makanannya yang sudah tidak diragukan lagi legacy dan rasanya yang enak, Minangkabau juga memiliki legenda tentang tiga gunung penyangga langit yang dikenal dengan sebutan Triarga Minangkabau.
Ketiga gunung ini menjulang menyerupai sebuah tungku dan secara legenda lisan turun temurun dalam Tambo Minangkabau dipercayai bahwa nenek moyang orang Minangkabau berasal dari Gunung Marapi yang merupakan salah satu penyangga langit tersebut.
Apa aja sih gunung – gunung penyangga langit Minangkabau lainnya?
Yuk, kita cari tahu!
Gunung Marapi
Gunung dengan titik tertinggi 2.891 Mdpl ini dipercaya sebagai asal usul nenek moyang orang Minang. Menurut legenda, lokasi ini adalah tempat yang pertama kali dihuni oleh masyarakat Minang setelah kapal yang mereka tumpangi mendarat di gunung yang pada saat itu diceritakan masih sebesar telur dan dikelilingi air. Legenda ini diperkuat dengan ditemukannya sejumlah besar batu pemakaman tegak yang berorientasi mengarah ke gunung.
Puncak tertinggi Gunung Marapi diberi nama Puncak Garuda yang berada di Batu Palano, Kabupaten Agam dan Puncak Merpati di Pariangan, Tanahdatar.

Gunung ini memiliki sebuah kawah mati yang di sebut “Lapangan Bola” lantaran bentuk cekungannya yang luas mirip stadion sepakbola yang ditandai dengan adanya Tugu Abel. Di lokasi ini kalian akan merasa seperti sedang berada di padang pasir Jazirah Arab loh sob. Kawah ini dulunya adalah kawah utama Gunung Marapi namun akibat terjadi penyumbatan akhirnya terbentuklah kawah baru di sebelahnya.
Selain itu Marapi juga memiliki hutan Edelweiss yang indah. Jarak hutan ini hanya 30 – 45 menit dari Puncak Merpati namun dengan jalur yang tidak mudah dan sangat menantang.
Gunung tertinggi ke-2 di Sumatera Barat ini juga memiliki sebuah telaga indah yang disebut Telaga Dewa. Walaupun tidak sebening Telaga Dewi di Gunung Singgalang tapi vegetasi tumbuhan rambat, tumbuhan terapung dan pepohonan menjadi daya tarik telaga ini. Telaga ini terdapat di hutan larangan yang membuat pendaki jarang mendekatinya dan merupakan jalur penipu yang menjadi lokasi seringnya pendaki tersesat di Gunung Marapi.
Gunung Singgalang
Gunung yang bentuknya mirip dengan Gunung Merbabu di Jawa tengah ini memiliki ketinggian 2877 Mdpl. Kawasan hutan Gunung Singgalang termasuk yang lembab sehingga memiliki kandungan air yang banyak.
Gunung tertinggi ketiga di Sumatera Barat ini memiliki sebuah telaga indah yang merupakan sebuah kawah mati di puncaknya, telaga ini disebut Telaga Dewi yang merupakan pasangan dari Telaga Dewa di Gunung Marapi. Bersama dengan Gunung Tandikat, Gunung Singgalang juga disebut dengan Gede Pangrangonya Sumbar.
Karena air di Telaga Dewi yang amat bersih sampai tidak ada sehelai pun daun yang mengapung di permukaan airnya, akhirnya tersebar cerita lokal warga setempat jika apapun yang jatuh ke danau Telaga Dewi akan hilang bak ditelan ke dalam danau.
Konon Telaga Dewi ini adalah tempat persembunyian Dewi Padi sang pelindung warga sekitar. Karena letaknya yang tersembunyi di tengah hutan yang lebat membuat telaga ini sangat jarang disambangi, Tapi pesonanya tetap tersebar melalui cerita para pendaki yang pernah mengunjunginya.
Namun ada yang berbeda dengan puncak Singgalang dibanding gunung lainnya yaitu jika puncak gunung lain ditandai dengan tugu atau patok, puncak Singgalang ditandai dengan banyaknya tower pemancar yang dipagari kawat.
Gunung Tandikat/Tandikek
Gunung berketinggian 2.438 Mdpl ini adalah gunung yang lumayan jarang digunakan untuk kegiatan pendakian. Untuk mendaki gunung ini kalian akan membutuhkan alat dan kemampuan untuk navigasi, hal ini disebabkan karena jalan setapak pada jalur pendakian yang tidak jelas karena hilang ataupun terputus.
Gunung ini membentang lebar ke selatan, sebelah selatan berbatasan dengan Danau Maninjau, sebelah utara berdampingan dengan Gunung Singgalang dan sebelah timur merupakan gugusan pegunungan vulkanik Tersier tua. Di hutan gunung ini juga masih dijumpai hewan liar seperti harimau sumatera. Selain itu juga kalian akan ditemani oleh pacet pada ketinggian 650 – 1.700 Mdpl.
Kawah gunung ini masih aktif dan selalu mengeluarkan gas belerang yang berbahaya dari gua yang berada di dasar kawahnya. Namun karena dasar kawahnya yang cukup luas serta terdapat sebuah telaga kecil membuat lokasi ini menjadi pilihan untuk mendirikan tenda oleh para pendaki. Air telaga ini walaupun memiliki rasa belerang tapi merupakan sumber air bagi hewan seperti tapir yang berhabitat di sekitar dasar kawah Gunung Tandikat.
Gunung selain sebagai salah satu sumber daya alam untuk kehidupan masyarakatnya juga merupakan sumber daya untuk perekonomian melalui pariwisata, perkebunan, pertanian maupun peternakan. Ditambah dengan bumbu legenda maupun mitos yang menghiasinya akan menjadi daya tarik tersendiri bagi para pelancong yang menyukai tantangan.
Namun kembali harus diingat bahwa kebersihan dan keberlanjutan ekosistemnya bukan hanya menjadi tanggung jawab warga sekitar tapi juga tanggung jawab setiap orang yang mengunjunginya.


