Kabar duka datang dari dunia pendakian Indonesia. Seorang pendaki asal Binjai, Sumatera Utara bernama Kris Biantoro (49) meninggal dunia saat melakukan pendakian di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), Aceh.
Peristiwa ini menjadi perhatian banyak orang. Bukan hanya karena kejadiannya terjadi di salah satu gunung paling liar di Indonesia, tetapi juga karena keputusan yang akhirnya diambil oleh tim evakuasi dan keluarga korban.
Jenazah Kris Biantoro akhirnya dimakamkan di kawasan Kamp Lapangan Bola dekat puncak Gunung Leuser, setelah proses evakuasi dinilai terlalu berisiko akibat cuaca ekstrem dan medan yang sangat sulit.
Berikut kronologi lengkap kejadian tersebut.
Awal Mula Pendakian Hingga Pendaki Meninggal Dunia di Gunung Leuser
Menurut laporan yang diberitakan detik.com, Kris Biantoro melakukan pendakian bersama rombongan berjumlah 13 pendaki serta dua orang pemandu.
Pendakian dimulai pada 31 Maret 2026 melalui resor Kedah di Kabupaten Gayo Lues, Aceh. Perjalanan tersebut direncanakan berlangsung selama sekitar 10 hari, dengan target mencapai puncak Gunung Leuser sebelum kembali turun.
Namun saat perjalanan turun dari puncak, kondisi darurat terjadi.
Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah III Blangkejeren, Ali Sadikin, menjelaskan bahwa Kris mengalami kondisi kritis di jalur pendakian tepatnya di Kamp Lapangan Bola.
“Pendaki telah melakukan pertolongan pertama dengan metode RJP, namun korban tetap tidak sadarkan diri,” ujar Ali Sadikin kepada detikSumut.
Peristiwa tersebut terjadi sekitar Kamis, 9 April 2026 pukul 16.00 WIB.
Meski rekan pendaki sudah mencoba memberikan pertolongan pertama, nyawa Kris tidak dapat diselamatkan.
Kuat dugaan korban mengalami hipotermia, kondisi berbahaya ketika suhu tubuh turun drastis akibat paparan suhu dingin dalam waktu lama.
Proses Evakuasi yang Memakan Waktu Berhari-hari
Setelah laporan kejadian diterima, pihak TNGL langsung berkoordinasi dengan Basarnas, kepolisian, serta tim SAR untuk melakukan evakuasi.
Namun medan Gunung Leuser dikenal sebagai salah satu jalur pendakian paling berat di Indonesia.
Dari lokasi kejadian hingga pintu rimba saja, perjalanan diperkirakan memerlukan waktu 4 hingga 5 hari berjalan kaki.
Artinya, proses evakuasi tidak bisa dilakukan dengan cepat.
Selain itu, lokasi kejadian berada jauh di dalam kawasan hutan lebat yang terkenal dengan jalur panjang, medan terjal, serta kondisi cuaca yang sulit diprediksi.
Untuk sementara waktu, aktivitas pendakian ke Gunung Leuser juga ditutup demi keamanan selama proses penanganan kejadian tersebut.
Jenazah Kris Biantoro Dimakamkan di Kamp Lapangan Bola
Dalam perkembangan terbaru, jenazah Kris Biantoro akhirnya dimakamkan di lokasi Kamp Lapangan Bola dekat puncak Gunung Leuser.
Keputusan tersebut diambil setelah dilakukan rapat koordinasi antara berbagai pihak. Pertemuan tersebut melibatkan pihak Taman Nasional Gunung Leuser, kepolisian, TNI, tim SAR, serta keluarga korban.
Kakak kandung almarhum, Prionoto, secara resmi menandatangani surat persetujuan untuk pemakaman di lokasi tersebut. Keputusan ini diambil dengan mempertimbangkan keselamatan tim evakuasi.
Ali Sadikin menjelaskan bahwa membawa jenazah turun dari puncak Leuser sangat berisiko.
“Jenazah sangat berisiko jika dipaksakan dibawa turun karena faktor cuaca dan medan ekstrem yang tidak memungkinkan serta membutuhkan waktu perjalanan beberapa hari,” jelasnya.
Tim yang berada di lokasi kemudian diarahkan untuk segera melakukan proses pemakaman di kawasan tersebut.
Mengapa Evakuasi Gunung Leuser Sangat Sulit?
Banyak masyarakat bertanya mengapa jenazah tidak segera dievakuasi turun. Sebagian bahkan mempertanyakan kenapa evakuasi tidak dilakukan menggunakan helikopter.
Padahal kenyataannya, Gunung Leuser bukan gunung yang mudah dijangkau. Gunung ini berada di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser, salah satu hutan hujan tropis terakhir di Asia Tenggara yang masih sangat alami dan liar.
Selain itu, Gunung Leuser juga dikenal memiliki tingkat kesulitan tinggi. Dalam klasifikasi medan pendakian, kawasan ini sering disebut berada pada kategori level 5, yang berarti medannya termasuk salah satu yang paling berat di Indonesia.
Beberapa faktor yang membuat evakuasi sangat sulit antara lain:
1. Medan Pendakian Sangat Panjang
Pendakian Gunung Leuser terkenal memiliki jalur yang sangat panjang.
Untuk mencapai puncaknya saja, perjalanan bisa memakan waktu 7 hingga 10 hari. Artinya, lokasi kejadian berada sangat jauh dari akses bantuan.
2. Hutan Leuser Sangat Lebat
Berbeda dengan banyak gunung di Jawa, jalur Leuser didominasi oleh hutan hujan tropis yang sangat rapat.
Vegetasi yang lebat membuat pencarian lokasi atau pendaratan helikopter menjadi sangat sulit. Bahkan membuka area pendaratan saja bisa membutuhkan waktu lama.
3. Cuaca Gunung Sangat Tidak Stabil
Di ketinggian lebih dari 3.000 meter, kondisi cuaca dapat berubah dengan cepat. Kabut tebal, angin kencang, serta hujan deras sering terjadi tanpa peringatan.
Dalam kondisi seperti ini, penerbangan helikopter sangat berisiko.
4. Prioritas Keselamatan Tim SAR
Dalam operasi SAR di seluruh dunia, ada satu prinsip utama, yakni keselamatan tim penolong merupakan prioritas tertinggi.
Memaksakan evakuasi di medan berbahaya justru dapat menimbulkan korban tambahan. Karena itulah keputusan pemakaman di lokasi dianggap sebagai langkah paling aman.
Penjelasan Soal Evakuasi Helikopter
Pertanyaan yang paling sering muncul di media sosial adalah, “Kenapa tidak pakai helikopter?”
Beberapa relawan dan pihak yang memahami kondisi Gunung Leuser menjelaskan bahwa penggunaan helikopter tidak semudah yang dibayangkan.
Sebelum helikopter bisa mendarat, harus dilakukan survei lokasi pendaratan terlebih dahulu. Hal yang perlu dipastikan antara lain titik koordinat landing, kondisi angin, kondisi kabut, luas area pendaratan, serta keamanan medan sekitar.
Di Gunung Leuser, area terbuka yang cukup untuk pendaratan helikopter sangat terbatas. Ditambah lagi cuaca ekstrem yang sering berubah mendadak. Tanpa survei yang matang, helikopter justru berisiko mengalami kecelakaan.
Keputusan Keluarga yang Patut Dihormati
Akhirnya, setelah mempertimbangkan seluruh risiko, keluarga korban mengambil keputusan yang sangat berat. Mereka menyetujui agar Kris Biantoro dimakamkan di lokasi terakhirnya berada, yaitu Kamp Lapangan Bola Gunung Leuser.
Keputusan ini diambil demi keselamatan semua pihak yang terlibat dalam proses evakuasi.
Banyak pendaki yang memahami betapa beratnya keputusan tersebut. Karena Gunung Leuser memang dikenal sebagai salah satu gunung paling sulit di Indonesia.

Kabar meninggalnya Kris Biantoro meninggalkan duka bagi keluarga, sahabat, dan komunitas pendaki Indonesia. Kini beliau telah beristirahat di salah satu tempat paling sunyi di Sumatera.
Semoga almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan. Peristiwa ini juga menjadi pengingat bagi para pendaki bahwa perjalanan di alam bebas selalu menyimpan risiko yang tidak bisa diprediksi.
Turut berduka cita untuk keluarga yang ditinggalkan. Semoga diberikan ketabahan dan kekuatan dalam menghadapi kehilangan ini.


